Senin, 07 Januari 2013

Hubungan Indonesia dan Jerman


Sebuah bangsa/negara tentu akan diakui negara lain ketika negara tersebut tidak menutup diri di tengah pergaulan dunia. Dengan kata lain, katakanlah, dengan menjalin silaturahmi antarbangsa, maka kesempatan suatu negara untuk berkembang dalam segala bidang dapat terwujud. Hal ini dikarenakan oleh hubungan antarnegara, di mana ‘rekan kerja’ akan saling membantu.
Tentu saja untuk mewujudkan suatu hubungan kenegaraan, diperlukan langkah-langkah yang bijak. Dalam blog (http://mymok.multiply.com/journal/item/46/Hubungan_Jerman_dan_Indonesia_Kian_Erat):
“Kunjungan Kanselir Jerman Helmut Kohl ke Indonesia pada tahun 1996 menghasilkan banyak kesepakatan dalam mempererat hubungan diplomatik antara negara Indonesia dan Jerman. Salah satu dari adalah mendirikan Komisi Bahasa Indonesia-Jerman, yang berdiri pada tahun 1997 lalu. Berdirinya komisi ini menunjukkan bahwa dalam upaya membangun hubungan diplomatik antara Indonesia-Jerman tidak hanya melulu dilakukan lewat ekonomi dan politik, tetapi juga perlu dilakukan lewat diplomasi budaya yang berjalan seimbang.”
Dalam kutipan ini terdapat poin penting tentang sebuah langkah untuk mengadakan/menjaga sebuah hubungan antarnegara. Di antaranya adalah membangun komisi-komisi atau lembaga-lembaga yang berhubungan langsung dengan kedua negara. Dengan begitu, hubungan kedua negara terprogram dengan baik. Sebagai contoh yakni didirikannya Komisi Bahasa Indonesia-Jerman dan Goethe Institut.
Upaya menjaga hubungan serta mengembangkan hubungan antarnegara terus menerus dilakukan, tentu saja, dengan tidak terpaku pada satu masalah/bidang saja. Dalam artikel (http://www.jakarta.diplo.de/Vertretung/jakarta/id/06/Bilaterale__Kulturbeziehungen/Bilaterale__Kulturbeziehungen.html):
“Antara orang Jerman dan Indonesia terjalin sejarah yang panjang, sudah dimulai sejak abad ke-16 ketika para pedagang Jerman yang menumpang kapal-kapal Belanda maupun Portugis mendatangi wilayah yang dahulu dikenal dengan sebutan Hindia Timur. Selama masa penjajahan Belanda ribuan orang Jerman datang ke Indonesia, baik sebagai pegawai bagian administrasi di bawah Koloni Belanda, maupun sebagai insinyur, tenaga teknis serta tidak ketinggalan sebagai peneliti dan ilmuwan.
Industri Jerman telah ada sejak pertengahan abad ke-19 di Indonesia. Setelah tahun 1945 para pengusaha Jerman, tenaga ahli Jerman di bidang kerja sama pembangunan maupun bidang pendidikan dan penelitian, serta pertukaran akademis yang intensif melanjutkan hubungan Jerman dan Indonesia yang selama ini baik.”
Sejak dulu bangsa Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Jerman dan kemudian mengalami kemajuan semenjak pasca-Perang Dunia II. Bidang-bidang yang mendapat perhatian yaitu pembangunan, pendidikan dan penelitian, serta pertukaran akademis. Kerja sama-kerja sama inilah yang diperlukan oleh bangsa Indonesia.
Dengan memperhatikan hal-hal di atas, maka yang menjadikan hubungan Indonesia-Jerman berkembang dikarenakan program-program yang terlaksana dengan baik. Ada pun contoh lain dari program-program hubungan bilateral lainnya yakni di bidang kebudayaan. Dalam Kompas.com (2009):
“LONDON, KOMPAS.com - Aroma kopi semerbak di ruangan Cafe Die Rosterei, Monckebergstr, menyambut tamu di acara "Indonesian Coffee Day" yang diadakan KJRI Hamburg dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), di kawasan perbelanjaan utama kota Hamburg.”
“Alunan musik gamelan menyambut sekitar 80 undangan di antaranya Dean Consular Corps Zarko Plevnik Konsul Jenderal Kroasia, pejabat Protokol Senat Hamburg Wiebke Haubold, Kamar Dagang, Asosiasi Pengusaha Asia Pasific Gero Winkler, Direktur Asosiasi Kopi Jerman Holger Preibisch serta Importir Kopi dan pengurus DIG serta media masa setempat.”
Serta:
“Pasar Jerman merupakan pasar yang sangat penting untuk Indonesia. Kopi Indonesia disukai di Jerman, karena mempunyai kekhasan cita rasa tersendiri dibandingkan dengan kopi-kopi dari negara lain, ujarnya.”

Sebuah acara “Indonesian Coffee Day” yang diselenggarakan di Hamburg. Acara ini untuk melestarikan pula kesenian/kebudayaan asli Indonesia, yakni seni musik gamelan. Sungguh ini sebuah kabar menggembirakan karena selain untuk menjaga hubungan bilateral dengan Jerman, juga untuk memperkenalkan serta melestarikan kebudayaan asli Indonesia.
Akhirnya kita patut bersyukur bahwa kita masih dapat merasakan hidup yang bersahaja di negeri ini. Jika kelak hubungan Indonesia dengan negara lain retak, kita sebagai rakyat akan ikut terkena dampak. Dengan tetap menjaga silaturahmi dengan sesama penghuni bumi, kita akan senantiasa hidup dalam ketenteraman.

Sumber :
Kompas.com. 2009. “Kopi Luwak Indonesia Favorit di Jerman”. [Online]. Tersedia: http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/10/08/03172473/Kopi.Luwak.Indonesia.Favorit.di.Jerman. [31 Oktober 2009].

0 komentar:

Poskan Komentar